Selasa, 20 September 2011

Datang Bulan dan Lemah Syahwat

Wah, mengapa membicarakan lemah syahwat segala? Ah, ini hanya masalah libido para bidadari yang menurut saat Datang Bulan, bukan masalah yang lain, hehehe. Bidadari surga tidak perlu khawatir dengan masalah seperti ini. Nikmatilah hidup, perhatikan artikel ini. Pada bagian ketiga atau bagian terakhir dari tulisan ini, insya Allah kami akan menyalin tulisan terakhir Dr Muslim Muhammad Al-Yusuf dalam buku beliau “Tetap Mesra Saat Darurat “ pada pembahasan masalah bermesraan di daerah bawah pusar dan di atas lutut. Yaitu menilik pada Pendapat Ketiga dan Tarjih dari semua pendapat diatas. Semoga bermanfaat.

Pendapat Ketiga
Boleh Bagi Lelaki yang Wara’ dan Lemah Syahwatnya Bermesraan dengan Istri yang Haid dan Nifas di Daerah Bawah Pusar dan Atas Lutut Selain di Kemaluan
Para ulama yang berpendapat demikian berlandaskan dalil-dalil berikut ini:

Pertama,
dalil dari Al-Quranul Karim. Firman Allah Ta ‘ala, “…Oleh sebab itu, hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haid…” (Al-Baqarah 2: 222). Sisi pengambilan dalil dari ayat ini adalah bahwa kata al-mahidh merupakan isim makan (kata benda yang menunjukkan tempat) dari kata haid. Maka, dikhususkannya tempat darah (kemaluan) agar dijauhi merupakan dalil dibolehkannya bermesraan di daerah bawah pusar dan atas lutut selain di kemaluan bagi laki-laki yang wara’ dan lemah syahwatnya.

Kedua,
dalil dari sunnah Nabi yang mulia, yakni antara lain, sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam yang mulia,
“Lakukanlah segala sesuatu kecuali nikah (jimak).”

Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, ia berkata,
“Ketika Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berada di masjid, beliau bersabda, ‘Wahai Aisyah, ambilkan bajuku!’ ‘Aku sedang haid, jawab Aisyah. Mendengar jawaban itu, beliau pun bersabda, ‘Sesungguhnya haidmu tidaklah berada di tanganmu’ Akhirnya, Aisyah mengambilkan baju itu.”

Dari Jabir bin Shubh: Aku mendengar Khilas Al-Hajari berkata: Aku mendengar Aisyah berkata,
 ”Aku dan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pernah bermalam dalam satu kain sarung, padahal aku sedang haid. Jika tubuh beliau terkena sedikit darah haid dariku, maka beliau mencuci tempat yang terkena darah haid itu dan tidak melampauinya (yakni hanya mencuci tempat yang terkena darah haid itu saja, tidak lebih, -penerj.), kemudian beliau shalat dalam keadaan demikian. Dan, jika baju beliau terkena sedikit darah haid, maka beliau mencuci tempat yang terkena darah haid itu dan tidak melampauinya, kemudian beliau shalat dengannya.”

Sisi pengambilan dalil dari hadits-hadits ini adalah bahwa secara tersirat semua hadits ini menunjukkan bolehnya seorang suami yang wara’ dan lemah syahwatnya bermesraan dengan istrinya yang sedang haid di daerah bawah kain sarung, yaitu di antara pusar dan atas lutut, selain di kemaluan.

Abul Abbas Al-Bashri dari kalangan madzhab Syafi’iyah berpendapat, bahwa bermesraan dengan istri yang sedang haid dan nifas di bawah pusar dan atas lutut selain di kemaluan adalah mubah (boleh) bagi laki-laki yang wara’ dan lemah syahwatnya, yakni yang mampu mengendalikan dirinya. Pasalnya, sisi pengambilan dalil dari ayat,”.. .Oleh sebab itu, hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haid…”, adalah bahwa kata al-mahidh merupakan isim makan (kata benda yang menunjukkan tempat) dari kata haid. Maka, dikhususkannya tempat darah (kemaluan) agar dijauhi merupakan dalil dibolehkannya bermesraan di daerah bawah pusar dan atas lutut selain di kemaluan, bagi laki-laki yang wara’ dan lemah syahwatnya. Karena, orang yang sangat wara’ dan lemah syahwatnya itu tidak mungkin akan terjerumus ke dalam hal-hal yang dilarang.

Para ulama yang tak sependapat dengan ijtihad ini menyanggah, bahwa sesungguhnya makna firman Allah Ta’ala, “…Oleh sebab itu, hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haid…”, adalah menjauhi daerah bawah kain sarung (yakni daerah sekitar kemaluan, -penerj.), baik bagi para suami yang wara’ maupun tidak wara’, yang lemah syahwatnya maupun yang kuat syahwatnya. Sebab, daerah antara pusar dan lutut itu termasuk daerah terlarang dari kemaluan wanita. Dan, bermesraan di daerah terlarang itu akan memicu untuk melakukan jimak. Hal ini sebagaimana penggembala yang menggembalakan hewan ternaknya di sekitar daerah terlarang, maka dikhawatirkan ia akan masuk di dalamnya, dan melakukan jimak yang terlarang.

Namun, bantahan tersebut juga disanggah, bahwa sesungguhnya toleransi bagi suami mana saja untuk bermesraan di daerah ini memang masuk dalam kandungan larangan hadits tersebut. Hanya saja, seorang yang wara’ dan lemah syahwatnya itu tidak mungkin akan terjerumus ke dalam hal-hal yang dilarang, karena kewara’annya, atau karena lemah syahwatnya dan penguasaan dirinya. Wallahu a’lam.

Tarjih dari Semua Pendapat:
Pendapat ketiga yang membolehkan bermesraan dengan istri yang sedang haid dan nifas di daerah bawah pusar dan atas lutut selain di kemaluan bagi suami yang wara’ dan lemah syahwatnya adalah pendapat yang paling rajih. Ini berdasarkan dalil-dalil dari ayat-ayat Al-Qiiran dan hadits-hadits yang mulia, yang menunjukkan bolehnya seorang suami yang wara’ dan lemah syahwatnya (dapat menguasai dirinya) bermesraan dengan istrinya yang sedang haid dan nifas di daerah bawah kain sarung, yakni antara pusar dan atas lutut, selain di kemaluan. Wallahu a’lam.

Di salin dari buku: “Tetap Mesra Saat Darurat” , Dr. Muslim Muhammad Al-Yusuf, Penerbit Zam-Zam, Solo.Cet 1 – 2008, hal: 58-74



Puncak Datang Bulan Tetap Mesra

Bidadari surga harus paham betul, kapan dia mengalami Puncak Datang Bulan. Wah, kayak film horor saja, hehe. Artinya, kapankah kita harus memahami kepekaan kita terhadap sentuhan-sentuhan pasangan kita. Hal ini penting untuk memanjakan diri, menikmati hidup sesuai alam yang ditakdirkan Allah swt. Kita tidak perlu tabu membicarakan masalah seks semacam ini. Bidadari surga mesti tetap hidup dengan penuh kenikmatan, meskipun tetap ikhlas dengan segala cobaan. Kita mesti tetap optimis.

Nah, jika pada bagian pertama lalu telah di bahas masalah bermesraan di daerah atas pusar dan di bawah lutut. Maka pada bagian kedua ini kita akan membahas bermesraan di daerah bawah pusar dan di atas lutut. Karena panjangnya pembahasan pada bagian ini maka kami terpaksa menyalin tulisan beliau Dr.Muslim Muhammad Al Yusuf ini hingga pada pendapat pertama dan kedua saja. Nah, selamat menyimak…

Sebaiknya bidadari surga tetap menyimak masalah yang penting ini. Jangan sampai kita tak mampu menyelesaikan kehendak kita untuk hidup yang lebih nikmat hanya gara-gara tidak mengetahui masalah dalam diri kita, yaitu Puncak Datang Bulan. Kita harus tetap sexy di depan suami… hehehe…

B. Bermesraan dengan Istri yang Haid dan Nifas di Daerah Bawah Pusar dan Atas Lutut Selain di Kemaluan
Dalam pembahasan sebelumnya, kita perhatikan bahwa para ahli ilmu telah sepakat tentang bolehnya bermesraan dengan istri yang sedang haid dan nifas di daerah atas pusar dan bawah lutut. Hanya saja, mereka masih berbeda pendapat tentang bolehnya bermesraan dengan istri yang sedang haid dan nifas di daerah bawah pusar dan atas lutut, selain di kemaluan, menjadi tiga pendapat.

Pendapat pertama,
makruhnya bermesraan dengan istri yang sedang haid dan nifas di daerah bawah pusar dan atas lutut, meski bukan di kemaluan. Para ulama yang berpendapat demikian adalah Muhammad bin Hasan Asy-Syaibani dari kalangan madzhab Hanafiyah, Asbagh dari kalangan Malikiyah, salah satu pendapat Imam Syafi’i, pendapat yang dipilih Ibnul Mundzir, pendapat yang dirajihkan Imam Nawawi, salah satu pendapat Imam Ahmad, pendapatnya Ikrimah, Mujahid, Asy-Sya’bi, An-Nakha’i, Sufyan Ats-Tsauri, Al-Auza’i, Abi Tsaur, Ishaq bin Rahawaih, Asy-Syaukani, dan Ibnu Hazm madzhab Zhahiri.

Pendapat kedua,
haramnya bermesraan dengan istri yang sedang haid dan nifas di daerah bawah pusar dan atas lutut, meski bukan di kemaluan. Ini adalah pendapatnya Abu Hanifah An-Nu’man, dan sahabatnya, Abu Yusuf, serta jumhur madzhab Malikiyah. Ini adalah pendapat yang dirajihkan di kalangan madzhab Syafi’iyah, juga pendapatnya Sa’id bin Musayyab, Thawus, Syuraih, Atha’, Qatadah, dan pendapat mayoritas ahli ilmu.

Pendapat ketiga,
dibolehkan bagi lelaki yang wara’ dan lemah sahwatnya untuk bermesraan dengan istrinya yang sedang haid dan nifas di daerah bawah pusar dan atas lutut selain di kemaluan, bilamana ia mampu menekan hasratnya dari berjimak di kemaluan. Ini adalah pendapat ketiga di kalangan madzhab Syafi’iyah.

Pendapat Pertama :
Boleh Bermesraan dengan Istri yang Haid dan Nifas di Daerah Bawah Pusar dan Atas Lutut Selain di Kemaluan
 Dalil-dalil yang mereka gunakan untuk mendukung pendapat tersebut adalah sebagai berikut:

Pertama, dalil dari Al-Quranul Karim.
Allah Ta’ala berfirman, ” …Oleh sebab itu, hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haid…” (Al-Baqarah [2]: 222). Sisi pengambilan dalil dari ayat ini adalah bahwa kata ‘al-mahidh’ merupakan isim makan (kata benda yang menunjukkan tempat) dari kata haidh. Maka, dikhususkannya tempat darah (kemaluan) agar dijauhi merupakan dalil dibolehkannya bermesraan di selain tempat yang dikhususkan ini.

Kedua, dalil dari sunnah Nabi shallallahu alaihi wa sallam yang mulia, yakni:
Dari Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu anha, ia berkata,
 ”Apabila salah seorang di antara kami sedang haid, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam biasa menyuruhnya mengenakan kain sarung di tempat keluarnya haid, lalu beliau mencumbuinya.” Aisyah melanjutkan, “Dan siapakah di antara kalian yang mampu menguasai hajatnya, sebagaimana Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dahulu mampu menguasai hajatnya?”)

Dari Maimunah radhiyallahu anha, ia berkata,
“Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam biasa mencumbui istri-istrinya di atas kain sarung, saat mereka haid.”

Dari Aisyah radhiyallahu anha, ia berkata,
 ”Apabila salah seorang di antara kami haid, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam biasa menyuruhnya (mengambil kain sarung). Ia pun mengikatkan kain sarungnya, lalu beliau mencumbuinya .”

Dari Haram bin Hakim, dari pamannya, bahwa ia pernah bertanya kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam,
 ”Apa yang halal bagiku sebagai suami terhadap istriku, saat ia haid?” Beliau menjawab, “Bagimu daerah di atas kain sarungnya.”

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:
“Lakukanlah segala sesuatu kecuali nikah (jimak).”
Sisi pengambilan dalil dari hadits-hadits ini adalah secara tersirat semua hadits ini menunjukkan dibolehkannya bermesraan dengan istri yang sedang haid dan nifas di daerah bawah pusar dan atas lutut, selain berjimak di kemaluan.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, ia berkata,
“Ketika Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berada di masjid, beliau bersabda, ‘Wahai Aisyah, ambilkan bajuku!’ ‘Aku sedang haid” jawab Aisyah. Mendengar jawaban itu, beliau pun bersabda,’Sesungguhnya haidmu tidaklah berada di tanganmu.’ Akhirnya, Aisyah mengambilkan baju itu.”
Sisi pengambilan dalil dari hadits ini adalah secara tersirat hadits ini menunjukkan dibolehkannya bermesraan dengan istri yang sedang haid dan nifas di daerah bawah pusar dan atas lutut, bilamana ia menjauhi tempat haid dan nifas (yaitu farji).

Kedua, dalil ‘aaliyyah (logika).
Sesungguhnya berjimak di kemaluan saat haid dan nifas itu diharamkan karena adanya kotoran. Adapun selain di kemaluan, maka tidak diharamkan karena tidak adanya kotoran. Ibnu Qudamah Al-Maqdisi rahimahullah mengatakan, “Diriwayatkan dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda, ‘Jauhilah dari tempat keluarnya darah (kemaluan)’ Beliau melarang jimak dalam kondisi seperti ini, karena adanya kotoran. Lalu, beliau mengkhususkan tempatnya, seperti dubur (anus) misalnya. Hadits yang mereka riwayatkan dari Aisyah ini merupakan dalil atas halalnya daerah di atas kain sarung, bukan pengharaman atas daerah yang lainnya. Dan, telah diriwayatkan bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam apabila hendak melakukan sesuatu dari istrinya yang sedang haid, maka beliau meletakkan sebuah kain di atas kemaluannya. Kemudian, semua hadits yang kami sebutkan itu adalah secara tersurat, dan ia lebih utama daripada yang secara tersirat’. 

Para ulama yang berpendapat bolehnya bermesraan dengan istri di waktu haid dan nifas di daerah bawah pusar dan atas lutut selain di kemaluan bersandarkan kepada sejumlah dalil kuat yang telah disebutkan sebelumnya. Namun, pendapat ini bisa dibantah bahwa sesungguhnya sisi pengambilan dalil dari ayat,”.. Mereka bertanya kepadamu tentang haid…”, adalah larangan bermesraan di daerah bawah pusar dan di atas lutut. Pasalnya, firman Allah Ta’ala, “.. .Oleh sebab itu, hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haid…”, secara eksplisit berkonsekuensi untuk menjauhi bagian bawah kain sarung. Juga, bisa jadi hadits Rasulullah berikut ini menjelaskan tentang benarnya pendapat kami yang berkonsekuensi pengharaman bermesraan di bagian bawah kain sarung. Dari Mu’adz bin Jabal radhiyallahu anhu, ia berkata,
 ”Aku pernah bertanya kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam tentang apa saja yang dihalalkan bagi seorang laki-laki dari istrinya, saat ia haid?” Maka beliau menjawab, “Bagian atas kain sarungnya.”

Namun, bantahan tersebut disanggah, bahwa sesungguhnya sisi pengambilan dalil dari firman Allah Ta’ala,”… Oleh sebab itu, hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haid…”, adalah bahwa kata ‘al-mahidh’ merupakan isim makan (kata benda yang menunjukkan tempat) dari kata haid. Maka, dikhususkannya tempat darah (kemaluan) agar dijauhi merupakan dalil dibolehkannya bermesraan di selain tempat yang dikhususkan ini. Adapun berkaitan dengan hadits-hadits yang dijadikan hujjah oleh orang-orang yang menentang pendapat ini, maka semua itu adalah hadits-hadits yang global penjelasannya, dan maknanya perlu dijelaskan oleh hadits-hadits lain. Dan, hadits-hadits yang dijadikan sandaran oleh orang-orang yang menentang itu, makna globalnya telah dijelaskan oleh sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berikut, “Lakukanlah segala sesuatu kecuali nikah (jimak).” Hadits ini secara tersurat menunjukkan bolehnya bermesraan dengan istri yang sedang haid dan nifas di daerah bawah pusar dan atas lutut, selain di kemaluan.
Keshahihan pengambilan dalil ini juga dikuatkan oleh hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu. Berikut ini haditsnya; diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, ia berkata, “Ketika Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berada di masjid, beliau bersabda, ‘Wahai Aisyah, ambilkan bajuku!’ ‘Aku sedang haid’ jawab Aisyah. Mendengar jawaban itu, beliau pun bersabda, ‘Sesungguhnya haidmu tidaklah berada di tanganmu’ Akhirnya, Aisyah mengambilkan baju itu.” Hadits ini menunjukkan secara gamblang keshahihan pendapat ini. Pasalnya, bermesraan yang dibolehkan dan dimubahkan itu adalah di bagian luar tempat haid. Dengan demikian, sesungguhnya bermesraan dengan istri yang sedang haid dan nifas di daerah bawah pusar dan atas lutut itu hukumnya hanya makruh saja, sesuai yang dikatakan para ulama yang berijtihad demikian. Wallahu a’lam.

Pendapat Kedua :
Tidak Boleh Bermesraan dengan Istri yang Haid di Daerah Bawah Pusar dan Atas Lutut
Para ulama yang berpendapat demikian bersandarkan kepada sejumlah dalil naqliyyah maupun ‘aaliyyah (akal), yang akan kami sebutkan sebagai berikut:

Pertama,dalil dari Al-Quranul Karim. Firman Allah Ta’ala,
 ”Mereka bertanya kepadamu tentang haid. Katakanlah, ‘Haid itu adalah kotoran’. Oleh sebab itu, hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haid; dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang taubat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri.” (Al-Baqarah[2]:222)

Kedua, dalil dari sunnah Nabi yang mulia, antara lain:
Dari Mu’adz bin Jabal radhiyallahu anhu, ia berkata,
 ”Aku pernah bertanya kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam tentang apa saja yang dihalalkan bagi seorang laki-laki dari istrinya, saat ia haid?” Maka beliau menjawab, “Bagian atas kain sarungnya.”
Dari Umair, mantan budak Umar radhiyallahu anhu, ia berkata,
“Ada sekelompok orang dari penduduk Irak yang datang menghadap Umar radhiyallahu anhu. Umar pun bertanya kepada mereka, ‘Apakah kalian telah mendapat izin, sehingga datang?’ ‘Ya, benar’, jawab mereka. Umar bertanya lagi, ‘Ada keperluan apa kalian datang?’ ‘Kami datang hendak menanyakan tiga perkara’ jawab mereka. ‘Apa itu,’ tanya Umar. Mereka menjawab, ‘Shalat sunnah yang dikerjakan seorang laki-laki di rumahnya, apa itu? Apa saja yang halal bagi seorang laki-laki dari istrinya, saat ia haid? Dan, tentang mandi junub?’ Mendengar itu, sontak Umar berkata, ‘Apakah kalian para ahli sihir?’ ‘Bukan wahai Amirul Mukrrunin, kami bukan para ahli sihir,’ jawab mereka. Umar berkata, ‘Sungguh kalian telah menanyakan kepadaku tiga perkara yang belum pernah ditanyakan oleh seorang pun kepadaku, sejak aku menanyakannya kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam sebelum kalian. Adapun shalat (sunnah) seorang laki-laki di rumahnya, maka hal itu adalah seberkas cahaya, maka terangilah rumahmu semampumu. Berkaitan dengan wanita haid, maka halal di bagian atas kain sarungnya. Sedangkan bagian bawahnya, maka tidak halal bagi si suami’.”

Ketiga, dalil ‘aqliyyah (akal).
Sesunggunya daerah antara pusar dan lutut termasuk daerah terlarang dari kemaluan wanita. Dan, bermesraan di daerah terlarang itu akan memicu untuk melakukan jimak. Hal ini sebagaimana penggembala yang menggembalakan hewan ternaknya di sekitar daerah terlarang, maka dikhawatirkan ia akan masuk di dalamnya.

Dari Nu’man bin Basyir, dari Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, bahwa beliau bersabda,
 ”Yang halal itu sudah jelas dan yang haram juga sudah jelas, tapi di antara keduanya ada syubhat-syubhat yang tidak diketahui oleh banyak orang. Barangsiapa yang berhati-hati terhadap syubhat-syubhat itu, maka ia telah membersihkan agama dan kehormatannya. Barangsiapa yang terjerumus ke dalam syubhat-syubhat itu, maka ia telah terjerumus dalam hal yang haram. Ini seperti seorang penggembala yang menggembalakan (hewan ternaknya) di sekitar daerah terlarang, yang dikhawatirkan hewannya akan masuk ke daerah terlarang itu. Ketahuilah, bahwa setiap raja mempunyai daerah terlarang. Ketahuilah, bahwa daerah terlarang Allah di muka bumi-Nya adalah hal-hal yang diharamkan-Nya. Ketahuilah, bahwa di setiap tubuh ada segumpal daging. Jika segumpal daging ini baik, maka baiklah seluruh tubuhnya. Sebaliknya, jika segumpal daging ini rusak, maka rusaklah seluruh tubuhnya. Ketahuilah, bahwa segumpal daging itu adalah hati.”
Para ulama yang berpendapat tidak bolehnya bermesraan dengan istri yang sedang haid dan nifas di daerah bawah pusar dan atas lutut itu bersandarkan kepada sejumlah dalil. Di antaranya adalah firman Allah Ta’ala,
“Mereka bertanya kepadamu tentang haid. Katakanlah, ‘Haid itu adalah kotoran’. Oleh sebab itu, hendaknya kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haid; dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang taubat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri.” (Al-Baqarah 2: 222)

Sisi pengambilan dalil dari ayat ini adalah larangan bermesraan di daerah bawah pusar dan atas lutut. Pasalnya, firman Allah Ta’ala,”.. .Oleh sebab itu, hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haid…”, secara eksplisit berkonsekuensi untuk menjauhi bagian bawah kain sarung. Adapun daerah atas pusar dan daerah bawah lutut, maka para ulama telah sepakat atas bolehnya bermesraan di kedua daerah tersebut. Dan, tersisalah daerah bawah pusar sampai lutut yang tetap berada di bawah hukum pengharaman apabila tidak ada dalil yang menunjukkan kebolehannya.

Namun, pendapat ini bisa dibantah, bahwa sisi pengambilan dalil dari ayat ini adalah bahwasanya kata al-mahidh merupakan isim makan (kata benda yang menunjukkan tempat) dari kata haid. Maka, dikhususkannya tempat darah (kemaluan) agar dijauhi merupakan dalil dibolehkannya bermesraan di selain tempat yang dikhususkan ini.

Kemudian para ulama yang berpendapat demikian membawakan dalil-dalil lain dari sunnah nabawiyyah dan atsar-atsar yang diriwayatkan dari para sahabat yang mulia, yang menjelaskan keharaman bermesraan di daerah bawah pusar dan atas lutut. Namun, para ulama yang tidak setuju dengan pendapat tersebut menyanggahnya bahwa semua atsar itu dha’if dan tidak sah berdalil dengannya. Khususnya, karena semua atsar itu bertentangan dengan hadits-hadits shahih yang menjelaskan secara gamblang keshahihan pendapat kami. Wallahu a’lam.Bersambung pada tulisan ketiga insya Allah.

Di salin dari buku: “Tetap Mesra Saat Darurat” , Dr. Muslim Muhammad Al-Yusuf, Penerbit Zam-Zam, Solo.Cet 1 – 2008, hal: 58-74.


Tetap Mesra Saat Datang Bulan

Buat Bidadari Surga, kini bukan saatnya kebingungan menghadai Si Bulan yang selalu bertamu. Kita mesti tetap seperti adanya, dan tetap cantik dan sexy. Hidup mesti selalu dinikmati sesuai dengan jalan yang dicontohkan Rasulullah. Meskipun kita dalam kondisi tidak diperbolehkan menjalankan ibadah mahdhoh, masih ada ladang lain untuk beribadah. Infak sedekah masih tetap harus kita jalankan, sesuai kemampuan kita.

Memang, datang bulan atau haid merupakan lampu merah bagi suami untuk berdekat-dekat dengan istri? Berhenti jugakah segala aktivitas kemesraan pasangan suami istri? Haruskah seorang suami libur dari bermesraan sampai istrinya selesai dari masa nifas? Dr Muslim Muhammad Al Yusuf dalam buku ‘Tetap Mesra Saat Darurat’ menjelaskan kepada kita permasalahan bermesraan di kala haid dan nifas ini.  Dikarenakan tulisan beliau panjang, maka akan kami bagi menjadi dua, yaitu:

Bagian pertama, akan membahas bermesraan di daerah atas pusar dan di bawah lutut.
Bagian kedua, akan membahas bermesraan di daerah bawah pusar dan di atas lutut.

Oleh karena itu, tidak perlu khawatir bermesraan, tetapi tetap dalam jalur, ya. Saya ingin memberikan sedikit panduan yang pernah ditulis oleh seorang pakar agama. Jadi, bukan saatnya lagi kita bertabu ria dengan “bermesraan saat datang bulan”.

Berikut penjelasan Dr. Muslim Muhammad Al Yusuf, semoga bermanfaat

A. Bermesraan dengan Istri yang Haid dan Nifas di Daerah Atas Pusar dan Bawah Lutut

Para ahli ilmu telah sepakat tentang bolehnya bermesraan dengan istri yang sedang haid dan nifas di daerah atas pusar dan bawah lutut, baik dengan ciuman, dekapan, tidur bersama, bercumbuan dan lain sebagainya. Dalil-dalil mereka mengenai hal itu adalah sebagai berikut:

Pertama, dalil dari sunnah Nabi yang mulia, yakni antara lain:
Dari Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu anhuma, ia berkata,
 ”Apabila salah seorang di antara kami sedang haid, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam biasa menyuruhnya mengenakan kain sarung di tempat keluarnya haid, lalu beliau mencumbuinya.” Aisyah melanjutkan, “Dan siapakah di antara kalian yang mampu menguasai hajatnya, sebagaimana Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dahulu mampu menguasai hajatnya?”

Dari hadits ini, dapat disimpulkan bolehnya bermesraan dengan istri yang sedang haid dan nifas di daerah atas pusar dan bawah lutut. Karena arti, “mengenakan kain sarung (ta’taziru),” adalah mengikatkan kain sarung yang bisa menutupi pusarnya dan daerah bawahnya sampai lutut.

DariMaimunah radhiyallahu anhuma, ia berkata,
“Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam biasa mencumbui istri-istrinya di atas kain sarung, saat mereka haid.”
Dari Aisyah radhiyallahu anha, ia berkata:
“Apabila salah seorang di antara kami haid, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam biasa menyuruhnya (mengambil kain sarung). Ia pun mengikatkan kain sarungnya, lalu beliau mencumbunya”

Dari Haram bin Hakim, dari pamannya, bahwa ia pernah bertanya kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam :
 ”Apa yang halal bagiku sebagai suami terhadap istriku, saat ia haid?” Beliau menjawab, “Bagimu daerah atas kain sarungnya.”

Semua hadits ini, baik secara tersurat maupun tersirat, menunjukkan bolehnya bermesraan dengan istri yang sedang haid dan nifas di daerah atas pusar dan bawah lutut, dengan berbagai gaya bermesraan.

Kedua, dalil dari ijmak
Para ahli ilmu telah berijmak tentang bolehnya bermesraan dengan istri yang sedang haid dan nifas di daerah atas pusar dan bawah lutut, dan tidak ada seorang pun dari mereka yang berbeda pendapat tentang hal tersebut. Bersambung pada tulisan kedua insya Allah.

Oleh karena itu, teman-teman tetaplah memantau tulisan-tulisan selanjutnya. Kita akan belajar bersama tentang Bermesraan saat datang bulan. Bidadari Surga harus selalu menjadi yang terbaik buat keluarga dan agama. Yakinlah, Allah selalu melindungi kita. Salam.

Di salin dari buku: “Tetap Mesra Saat Darurat” – Dr. Muslim Muhammad Al-Yusuf,Penerbit Zam-Zam, Solo.Cet 1 – 2008, hal: 58-74


Sabtu, 20 Agustus 2011

Cara Praktis Berjilbab Ala Bidadari

Salam sayang untuk para bidadari. Bagaimana penampilanmu kali ini? Apakah kalian telah nyaman dengan penampilan yang saat ini? Bagaimana dengan jilbab yang menutup mahkota atau kepalamu? Kali ini Bidadari Surga inngin mengetengahkan cara memakai jilbab, agar dapat tetap tampil baik namun tetap nyaman.

Kalian tidak perlu memekirkan yang berat-berat. Lebih baik waktu kita dimanfaatkan untuk membaca buku yang memberikan inspirasi hidup. Tapi, bagaimana pun juga, kalian membutuhkan cara berpenampilan yang manis untuk bersaing dengan bidadari surga. Berikut tatacara simple mengenakan jilbab.
  • Pilih bahan jilbab yang ringan,nyaman,adem dan praktis, carilah di toko jilbab di pasar atau took-toko muslim. Jika tidak memiliki waktu, cari aja toko jilbab online yang sudah terkenal, biar tidak tertipu.
  • Pilih model jilbab yang sesuai dengan bentuk wajah dan acara yang hendak kita hadiri, agar kita tidak salah kostum.
  • Model jilbab serta warna harus disesuaikan dengan busana yang kita pakai untuk memberi kesan elegan dan cantik.
  • Gunakan dalaman jilbab, seperti ciput, bando, atau bandana agar rambut tidak mudah keluar, sehingga anak-anak rambut pun rapi tersembunyi. Apabila rambut Anda berponi, gunakan jepit ke belakang, agar tidak menimbulkan jerawat di dahi, carilah di toko jilbab dan toko jilbab online.
  • Berwarna serasi dengan dalaman jilbab yang akan dipakai. Terkadang, jilbab atau bergo yang kita gunakan tidak cukup tebal, sehingga dalaman jilbab cukup membayang.untuk menyiasati pilih warna yang serasi dengan jilbab luar atau pilih warna hitam, putih atau warna kulit yang akan cocok dipadu-padan dengan jilbab aneka warna.
  • Gunakan aksesoris jilbab seperti bros atau lainnya agar terlihat lebih cantik.
  • Hindari model jilbab yang rumit dan banyak aksesoris untuk pemakaian sehari-hari.agar kita dapat melakukan aktifitas kita lebih leluasa. Kalian dapat melihat model jilbab terbaik di toko jilbab dan toko jilbab online.
  • Dan, yang terpenting adalah sesuai syariat islam.




Jilbab Pashima Bidadari Lebaran

Hai para bidadari surga, apa kabar? Akhir-akhir ini sedang trend menggunakan jilbab pashmina sebagai kerudung. Selain hemat, tampilannya juga menjadi menarik. Keuntungan lainnya, pashmina cenderung memiliki harganya yang relatif lebih murah. Corak dan warnanya juga beragam. Karenanya, sangat mudah jika dipadu dengan berbagai baju muslimah, supaya terlihat cantik dan memikat.
Sekarang mari kita bahas langkah-langkah memakai jilbab pashmina yuk:
  1. Gunakan ciput sebagai daleman jilbab.
  2. Taruh pashmina dikepala, dimana bagian kiri lebih pendek dari yang lain.
  3. Tarik pashmina kebelakang tengkuk, kemudian berikan peniti.
  4. Tarik bagian pashmina yang panjang, melingkar dari atas kebawah, sampai habis.
  5. Dibagian atas pada ujung pashmina yang dilingkarkan ke atas tadi, kasih penghias berupa bros jilbab atau peniti jilbab, supaya lebih cantik.
Di atas adalah cara mudah untuk mengenakan pashmina sebagai jilbab atau kerudung.
Setelah kita fasih mengenakan Jilbab Pashmina, maka tidak menutup kemungkinan pada saat Hari Raya Idul Fitri, jilbab Pashmina dapat menjadi pilihan untuk kita kenakan supaya tetap tampil anggun. Kita juga bisa mengkreasikan kerudung kita dengan berbagai model yang sesuai sehingga tampil anggun mempesona di hari yang istimewa.

Berikut beberapa panduan atau langkah-langkah memakai kerudung anggun model pasmina indah yang dikutip dari www.female.store.co.id:

Gaya Pashmina Indah
Langkah–langkah mengenakan kerudung gaya pashmina indah dan anggun:
  • Lipat salah satu sisi lebar kerudung +/- 15 cm, ikat di belakang tengkuk dengan peniti
  • Ambil sisi kanan dan kiri dari bahu ke tengah dahi dan tautkan dengan bros khusus jilbab. Lengkungkan tepi-tepinya seperti topi
  • Tautkan ujung kerudung di belakang kepala dengan bros kecil
  • Tarik sisa kerudung yang panjang ke kiri
  • Lilitkan kerudung di leher sampai ujung rumbai jatuh di dada. Semat dengan bros supaya lebih anggun
Nah, sekarang silahkan dicoba sendiri di rumah, semoga sesuai dengan yang Anda inginkan! Jangan pernah menyerah saat bersaing dengan Bidadari Surga. Sebagai muslimah, Anda pun bisa mendidik jiwa dan raga menjadi seorang bidadari bagi suami di rumah.



Jumat, 19 Agustus 2011

Wanita Solehah & Bidadari Surga

Pernahkah saudara-saudara melihat seorang bidadari? Bidadari yang bermata jeli. Yang kabarnya sangat indah dan jelita. Saya yakin kita semua belum pernah melihatnya. Kalau begitu mari kita ikuti percakapan antara Rasulullah sallallahu’alaihi wa sallam dan Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha tentang sifat-sifat bidadari yang bermata jeli.

Imam Ath-Thabrany mengisahkan dalam sebuah hadist, dari Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha, dia berkata, “Saya berkata, ‘Wahai Rasulullah, jelaskanlah kepadaku firman Allah tentang bidadari-bidadari yang bermata jeli’.”

Beliau menjawab, “Bidadari yang kulitnya putih, matanya jeli dan lebar, rambutnya berkilai seperti sayap burung nasar.”

Saya berkata lagi, “Jelaskan kepadaku tentang firman Allah, ‘Laksana mutiara yang tersimpan baik’.” (Al-waqi’ah : 23)

Beliau menjawab, “Kebeningannya seperti kebeningan mutiara di kedalaman lautan, tidak pernah tersentuh tangan manusia.”

Saya berkata lagi, “Wahai Rasulullah, jelaskan kepadaku firman Allah, ‘Di dalam surga-surga itu ada bidadari-bidadari yang baik-baik lagi cantik-cantik’.” (Ar-Rahman : 70)

Beliau menjawab, “Akhlaknya baik dan wajahnya cantik jelita”

Saya berkata lagi, Jelaskan kepadaku firman Allah, ‘Seakan-akan mereka adalah telur (burung onta) yang tersimpan dengan baik’.” (Ash-Shaffat : 49)

Beliau menjawab, “Kelembutannya seperti kelembutan kulit yang ada di bagian dalam telur dan terlindung kulit telur bagian luar, atau yang biasa disebut putih telur.”

Saya berkata lagi, “Wahai Rasulullah, jelaskan kepadaku firman Allah, ‘Penuh cinta lagi sebaya umurnya’.” (Al-Waqi’ah : 37)

Beliau menjawab, “Mereka adalah wanita-wanita yang meninggal di dunia pada usia lanjut, dalam keadaan rabun dan beruban. Itulah yang dijadikan Allah tatkala mereka sudah tahu, lalu Dia menjadikan mereka sebagai wanita-wanita gadis, penuh cinta, bergairah, mengasihi dan umurnya sebaya.”

Saya bertanya, “Wahai Rasulullah, manakah yang lebih utama, wanita dunia ataukah bidadari yang bermata jeli?”

Beliau menjawab, “Wanita-wanita dunia lebih utama daripada bidadari-bidadari yang bermata jeli, seperti kelebihan apa yang tampak daripada apa yang tidak tampak.”

Saya bertanya, “Karena apa wanita dunia lebih utama daripada mereka?”

Beliau menjawab, “Karena shalat mereka, puasa dan ibadah mereka kepada Allah. Allah meletakkan cahaya di wajah mereka, tubuh mereka adalah kain sutera, kulitnya putih bersih, pakaiannya berwarna hijau, perhiasannya kekuning-kuningan, sanggulnya mutiara dan sisirnya terbuat dari emas. Mereka berkata, ‘Kami hidup abadi dan tidak mati, kami lemah lembut dan tidak jahat sama sekali, kami selalu mendampingi dan tidak beranjak sama sekali, kami ridha dan tidak pernah bersungut-sungut sama sekali. Berbahagialah orang yang memiliki kami dan kami memilikinya.’.”

Saya berkata, “Wahai Rasulullah, salah seorang wanita di antara kami pernah menikah dengan dua, tiga, atau empat laki-laki lalu meninggal dunia. Dia masuk surga dan mereka pun masuk surga pula. Siapakah di antara laki-laki itu yang akan menjadi suaminya di surga?”

Beliau menjawab, “Wahai Ummu Salamah, wanita itu disuruh memilih, lalu dia pun memilih siapa di antara mereka yang akhlaknya paling bagus, lalu dia berkata, ‘Wahai Rabb-ku, sesungguhnya lelaki inilah yang paling baik akhlaknya tatkala hidup bersamaku di dunia. Maka nikahkanlah aku dengannya’. Wahai Ummu Salamah, akhlak yang baik itu akan pergi membawa dua kebaikan, dunia dan akhirat.”

Sungguh indah perkataan Rasulullah sallallahu’alaihi wa sallam yang menggambarkan tentang bidadari bermata jeli. Namun betapa lebih indah lagi dikala beliau mengatakan bahwa wanita dunia yang taat kepada Allah lebih utama dibandingkan seorang bidadari. Ya, bidadari saudaraku.

Sungguh betapa mulianya seorang muslimah yang kaffah diin islamnya. Mereka yang senantiasa menjaga ibadah dan akhlaknya, senantiasa menjaga keimanan dan ketaqwaannya kepada Allah. Sungguh, betapa indah gambaran Allah kepada wanita shalehah, yang menjaga kehormatan diri dan suaminya. Yang tatkala cobaan dan ujian menimpa, hanya kesabaran dan keikhlasan yang ia tunjukkan. Di saat gemerlap dunia kian dahsyat menerpa, ia tetap teguh mempertahankan keimanannya.

Sebaik-baik perhiasan ialah wanita salehah. Dan wanita salehah adalah mereka yang menerapkan islam secara menyeluruh di dalam dirinya, sehingga kelak ia menjadi penyejuk mata bagi orang-orang di sekitarnya. Senantiasa merasakan kebaikan di manapun ia berada. Bahkan seorang “Aidh Al-Qarni menggambarkan wanita sebagai batu-batu indah seperti zamrud, berlian, intan, permata, dan sebagainya di dalam bukunya yang berjudul “Menjadi wanita paling bahagia”.

Subhanallah. Tak ada kemuliaan lain ketika Allah menyebutkan di dalam al-quran surat an-nisa ayat 34, bahwa wanita salehah adalah yang tunduk kepada Allah dan menaati suaminya, yang sangat menjaga di saat ia tak hadir sebagaimana yang diajarkan oleh Allah.

Dan bidadari pun cemburu kepada mereka karena keimanan dan kemuliaannya. Bagaimana caranya agar menjadi wanita salehah? Tentu saja dengan melakukan apa yang diperintahkan Allah dan menjauhi segala laranganNya. Senantiasa meningkatkan kualitas diri dan menularkannya kepada orang lain. Wanita dunia yang salehah kelak akan menjadi bidadari-bidadari surga yang begitu indah.

Duhai saudariku muslimah, maukah engkau menjadi wanita yang lebih utama dibanding bidadari? Allah meletakkan cahaya di atas wajahmu dan memuliakanmu di surga menjadi bidadari-bidadari surga. Maka, berlajarlah dan tingkatkanlah kualitas dirimu, agar Allah ridha kepadamu


Bersaing dengn Bidadari Surga

Inginkah Anda sejelita bidadari surga? Lantas, seperti apa gambaran Anda tentang bidadari surga? Mengapa hati ini senantiasa bergetar ketika kata ‘bidadari surga’ diperdengarkan. Getar kecemburuan akan keindahan parasnya, kesucian jiwanya, ketundukkan pandangnya.

Ya, seperti apa gambaran sosok bidadari surga itu? Tak usah berimajinasi kesana kemari. Cukuplah kita membayangkan dari penggambaran dalam Al-Qur’an yang mulia ....

“Di sisi mereka ada bidadari-bidadari yang tidak liar pandangannya dan jelita parasnya. Seolah-olah mereka adalah telur yang tersimpan dengan baik.” (QS. ash-Shaffat: 48-49).

Ibnu Katsir menafsirkan ayat tersebut dengan wanita-wanita yang pandai menjaga kehormatannya, yakni tidak mengarahkan pandangan mereka kepada yang bukan pasangannya. Paras mereka sangat jelita, matanya indah menawan, penampilannya luar biasa cantik, pandai menjaga diri, takwa dan bersih. Allah menyifati mereka dengan bentuk tubuh dan penampilan yang elok dan warna kulit yang sangat mulus. Para bidadari itu ditamsilkan sebagai telur yang tersimpan dengan baik, karena kulit mereka sangat putih dan lembut seperti putih telur, namun belum ada tangan yang menyentuh karena keputihan itu terlindung oleh kulitnya yang keras.
Ummu Salamah pernah bertanya kepada Rasulullah saw., “Aku bertanya, ‘Wahai Rasulullah, terangkan kepadaku tentang firman Allah SWT, seolah-olah mereka adalah telur yang tersimpan dengan baik.’ Rasulullah saw. menjawab, ‘Kelembutan mereka seperti lembutnya kulit yang terdapat pada bagian dalam telur, yang terletak setelah kulit bagian luar. Itulah yang disebut dengan ghirqay.”

Hm... apa padanan para bidadari itu dengan para femina di persada bumi? Ah, itu masih kurang. Bahkan, para bidadari itu juga ditamsilkan sebagai yakut dan marjan, sebagaimana firman Allah SWT,

“Seakan-akan bidadari itu permata yakut dan marjan.” (QS. ar-Rahman: 58).

Menurut Imam Mujahid, Imam Hasan dan yang lain, marjan disamakan dengan mutiara (lu’lu’). Diriwayatkan bahwa Abdullah bin Mas’ud pernah berkata, “Sesungguhnya putihnya betis wanita-wanita penghuni surga, akan kelihatan dari balik 70 lapis kain sutera, bahkan sampai tulang sumsumnya pun kelihatan. Dan itulah yang dimaksudkan dengan firman Allah ‘Seakan-akan bidadari itu permata yakut dan marjan.’” Menurut Ibnu Katsir, yakut adalah sebuah batu yang jika kita memasukkan benang ke dalamnya kemudian kita menutupnya, pastilah kita akan melihat tali itu dari luar batu itu.

Sebuah penggambaran yang begitu dahsyat tentang kecantikan seorang wanita bukan? Pendek kata, bidadari surga adalah kesempurnaan pesona seorang wanita. Tak hanya pesona lahiriah, tapi juga batiniah. Kecantikan dari luar, maupun kecantikan dari dalam. Mereka jelita, namun bertakwa. Allah berfirman,

“Di dalam surga-surga itu ada bidadari-bidadari yang baik-baik lagi cantik-cantik.” (QS. Ar-Rahman: 70).

Pesona sang bidadari berpendar semakin kuat karena mereka juga disebutkan bertubuh harum dan penuh dengan binar-binar cahaya. Diriwayatkan oleh Anas bin Malik ra., bahwa Nabi Saw. pernah bersabda, “Seandainya seorang bidadari dari surga menampakkan diri kepada penghuni bumi, niscaya cahaya tubuhnya dan bau harumnya akan memenuhi ruang antara langit dan bumi, serta kerudung rambutnya lebih indah dan lebih bernilai daripada dunia seisinya.” (HR. Bukhari no. 2796).

Sang Kompetitor
Sekali lagi, silahkan Anda mencari padanan wanita yang sejelita bidadari surga. Monalisakah? Jenifer Lopez, atau Angelina Jolie? Atau para peraih titel Miss Universe atau Miss World. Tampaknya, kedahsyatan para perempuan yang menggetarkan jagad karena kecantikannya itu, tak ada apa-apanya dibanding para bidadari surga. Kehebatan mereka tak terpatahkan, kecuali oleh kompetitor yang satu ini: para wanita shalihah!

Ya, wanita shalihah, meskipun di dunia memiliki wajah biasa-biasa saja, ternyata mereka akan menandingi kemuliaan para bidadari ketika memasuki pintu surga dan menapaki tanah surga yang “…merupakan tepung putih, beraroma kesturi dan bersih” (HR. Muslim), serta memasuki bangunan di surga yang “batu batanya dari emas dan perak, adukannya beraroma kesturi, kerikilnya mutiara lu’lu’ dan mutiara yakut, tanahnya adalah za’rofan.” (HR. Ibnu Hibban, Ibnu Majah, Ahmad dan Tirmidzi).

Ummu Salamah ra. bertanya kepada Rasulullah saw., “Ya Rasulullah, beritakanlah kepada kami, mana yang lebih utama di surga, wanita di dunia ataukah bidadari surga?”

Rasulullah saw. lalu menerangkan bahwa perempuan dunia di surga sangat lebih utama dari biadari surga karena shalat, puasa dan ibadah yang dilakukan mereka. “Allah SWT memberi cahaya di wajah mereka, mereka mengenakan sutera di tubuhnya, warna kulit mereka putih, pakaian mereka hijau, perhiasan mereka kuning, pedupaan mereka mutiara dan sisir mereka adalah emas. Mereka mengatakan, ‘Kami adalah perempuan-perempuan abadi yang takkan mati. Kami adalah perempuan-perempuan bahagia yang takkan pernah miskin. Kami adalah perempuan-perempuan penduduk tetap yang takkan pindah selamanya. Ketahuilah, kami adalah perempuan-perempuan yang ridha dan takkan marah selamanya. Berbahagialah orang yang memiliki kami dan kami menjadi miliknya.’”

Ummu Salamah kembali bertanya, “Ya Rasulullah, ada di antara kami yang menikah dua atau tiga kali. Jika ia meninggal dunia dan suami-suaminya masuk surga, siapakah yang menjadi suaminya di surga?” Rasul menjawab, “Wahai Ummu Salamah, ia diberi kebebasan memilih mana di antara suaminya yang paling baik akhlaknya.” Lalu Ummu Salamah berkata, “Ya Rabb, jika suamiku yang ini adalah suami yang paling tampan di dunia, nikahkanlah aku dengannya.” Rasulullah saw menerangkan, “Wahai Ummu Salamah, ketampanan wajah musnah dengan kebaikan dunia akhirat.” (HR. Thabrani).

Jadi, wanita dunia, ketika masuk surga, akan mampu mengalahkan kejelitaan para bidadari. Ini seperti perkataan Aisyah ra., “Perempuan-perempuan Salihah di dunia akan berkata kepada bidadari surga, ‘Kami melakukan shalat sedangkan kalian tidak melakukan shalat. Kami berpuasa sedangkan kalian tidak melakukannya. Kami bersedekah sedangkan kalian tidak. Kami, perempuan Salihah di dunia, mengalahkan bidadari surga.”

Inilah yang menyebabkan—meminjam istilah Salim A. Fillah—bidadari pun merasa cemburu kepada para wanita Salihah di dunia. Kuncinya adalah ketaatan. Ilmu yang mendalam. Amal-amal shalih. Ibadah. Karena, tujuan penciptaan manusia sesungguhnya semata-mata hanya agar manusia itu beribadah, menyembah Sang Pencipta dengan kepasrahan total.


Bidadari adalah Perempuan Suci

Bidadari adalah keindahan yang ditunggu-tunggu oleh manusia. Tentang keindahan bidadari itu, Imam Ibnul Qoyyim al-Jauziyah pernah berkata:

"Jika anda bertanya tentang mempelai wanita dan istri-istri penduduk surga, maka mereka adalah gadis-gadis remaja yang montok dan sebaya. Pada diri mereka mengalir darah muda, pipi mereka halus dan segar bagaikan bunga dan apel, dada mereka kencang dan bundar bagai delima, gigi mereka bagaikan intan mutu manikam, keindahan dan kelembutan mereka selalu menjadi kerubutan.

Elok wajahnya bagaikan terangnya matahari, kilauan cahaya terpancar dari gigi-giginya dikala tersenyum. Jika anda dapatkan cintanya, maka katakan semau anda tentang dua cinta yang bertaut. Jika anda mengajaknya berbincang (tentu anda begitu berbunga), bagaimana pula rasanya jika pembicaraan itu antara dua kekasih (yang penuh rayu, canda dan pujian). Keindahan wajahnya terlihat sepenuh pipi, seakan-akan anda melihat ke cermin yang bersih mengkilat (maksudnya, menggambarkan persamaan antara keindahan paras bidadari dengan cermin yang bersih berkilau setelah dicuci dan dibersihkan, sehingga tampak jelas keindahan dan kecantikan). Bagian dalam betisnya bisa terlihat dari luar, seakan tidak terhalangi oleh kulit, tulang maupun perhiasannya.

Andaikan ia tampil (muncul) di dunia, niscaya seisi bumi dari barat hingga timur akan mencium wanginya, dan setiap lisan makhluk hidup akan mengucapkan tahlil, tasbih, dan takbir karena terperangah dan terpesona. Dan niscaya antara dua ufuk akan menjadi indah berseri berhias dengannya. Setiap mata akan menjadi buta, sinar mentari akan pudar sebagaimana matahari mengalahkan sinar bintang. Pasti semua yang melihatnya di seluruh muka bumi akan beriman kepada Allah Yang Maha hidup lagi Maha Qayyum (Tegak lagi Menegakkan). Kerudung di kepalanya lebih baik daripada dunia seisinya. Hasratnya terhadap suami melebihi semua keinginan dan cita-citanya. Tiada hari berlalu melainkan akan semakin menambah keindahan dan kecantikan dirinya. Tiada jarak yang ditempuh melainkan semakin menambah rasa cinta dan hasratnya. Bidadari adalah gadis yang dibebaskan dari kehamilan, melahirkan, haidh dan nifas, disucikan dari ingus, ludah, air seni, dan air tinja, serta semua kotoran.

Masa remajanya tidak akan sirna, keindahan pakaiannya tidak akan usang, kecantikannya tidak akan memudar, hasrat dan nafsunya tidak akan melemah, pandangan matanya hanya tertuju kepada suami, sekali-kali tidak menginginkan yang lain. Begitu pula suami akan selalu tertuju padanya. Bidadarinya adalah puncak dari angan-angan dan nafsunya. Jika ia melihat kepadanya, maka bidadarinya akan membahagiakan dirinya. Jika ia minta kepadanya pasti akan dituruti. Apabila ia tidak di tempat, maka ia akan menjaganya. Suaminya senantiasa dalam dirinya, di manapun berada. Suaminya adalah puncak dari angan-angan dan rasa damainya.

Di samping itu, bidadari ini tidak pernah dijamah sebelumnya, baik oleh bangsa manusia maupun bangsa jin. Setiap kali suami memandangnya maka rasa senang dan suka cita akan memenuhi rongga dadanya. Setiap kali ia ajak bicara maka keindahan intan mutu manikam akan memenuhi pendengarannya. Jika ia muncul maka seisi istana dan tiap kamar di dalamnya akan dipenuhi cahaya.

Jika anda bertanya tentang usianya, maka mereka adalah gadis-gadis remaja yang sebaya dan sedang ranum-ranumnya.

Jika anda bertanya tentang keelokan wajahnya, maka apakah anda telah melihat eloknya matahari dan bulan?!

Jika anda bertanya tentang hitam matanya, maka ia adalah sebaik-baik yang anda saksikan, mata yang putih bersih dengan bulatan hitam bola mata yang begitu pekat menawan.

Jika anda bertanya tentang bentuk fisiknya, maka apakah anda pernah melihat ranting pohon yang paling indah yang pernah anda temukan?

Jika anda bertanya tentang warna kulitnya, maka cerahnya bagaikan batu rubi dan marjan.

Jika anda bertanya tentang elok budinya, maka mereka adalah gadis-gadis yang sangat baik penuh kebajikan, yang menggabungkan antara keindahan wajah dan kesopanan. Maka merekapun dianugerahi kecantikan luar dan dalam. Mereka adalah kebahagiaan jiwa dan penghias mata.

Jika anda bertanya tentang baiknya pergaulan dan pelayanan mereka, maka tidak ada lagi kelezatan selainnya. Mereka adalah gadis-gadis yang sangat dicintai suami karena kebaktian dan pelayanannya yang paripurna, yang hidup seirama dengan suami penuh pesona harmoni dan asmara .

Apa yang anda katakan apabila seorang gadis tertawa di depan suaminya maka surga yang indah itu menjadi bersinar? Apabila ia berpindah dari satu istana ke istana lainnya, anda akan mengatakan: "Ini matahari yang berpindah-pindah di antara garis edarnya." Apabila ia bercanda, kejar mengejar dengan suami, duhai… alangkah indahnya…!! (dari kitab Hadil Arwah Ila Biladil Afrah (h.359-360)



 

Pengikut

Arsip Bidadari

Pengencan

Copyright 2010 Bidadari Surga. All rights reserved.
Themes by Bonard Alfin l Home Recording l Distorsi Blog